Sementara itu, PM Anthony Albanese menyebut perjanjian tersebut sebagai “momen bersejarah” yang menandai babak baru dalam hubungan pertahanan kedua negara.
“Perjanjian ini menunjukkan tekad bersama Indonesia dan Australia untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan dengan bertindak bersama,” ungkap Albanese.
Menurut Albanese, kesepakatan baru ini memperkuat dasar kerja sama yang telah terbangun melalui Perjanjian Keamanan Keating–Suharto (1995), Traktat Lombok (2006), dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (2024).
Selain itu, perjanjian ini menetapkan mekanisme konsultasi rutin di tingkat pemimpin dan menteri untuk merumuskan kebijakan bersama menghadapi tantangan keamanan regional.
“Jika keamanan salah satu pihak terancam, kedua negara akan berkonsultasi dan mempertimbangkan langkah bersama,” jelasnya.
Penandatanganan resmi perjanjian dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada Januari 2026, setelah masing-masing negara menyelesaikan proses domestik terkait ratifikasi.
Kesepakatan ini menandai perluasan dan pendalaman kemitraan strategis Indonesia–Australia di bidang pertahanan, yang diharapkan dapat memperkuat keamanan kawasan dan memperkokoh stabilitas Indo-Pasifik.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












