Dengan nilai investasi mencapai USD 5,9 miliar atau setara Rp96 triliun, proyek ini menar-getkan produksi baterai sebesar 6,9 gigawatt per hour (GWh) pada tahun 2026, dan akan ditingkatkan hingga mencapai kapasitas penuh sebesar 15 GWh pada 2028.
Lebih lanjut, Direktur Utama IBC, Toto Nugroho, menjelaskan bahwa pendanaan proyek dilakukan secara proporsional antara konsorsium asing dan BUMN. Untuk proyek hulu, An-tam memegang 51 persen saham, sedangkan di sektor hilir seperti smelter dan pabrik bat-erai, konsorsium China memiliki 70 persen dan sisanya 30 persen oleh IBC.
“Pendanaan disiapkan oleh pihak partner, misalnya 70-30, artinya mereka 70 persen, 30 per-sen di BUMN. Di BUMN kami, IBC itu kan ada 4 pemegang saham. Ada Inalum, Antam, PPI dari Pertamina, dan PLN. Nah ini yang mengkontribusi untuk kita chip-in yang 30 persen,” ujar Toto.
Ia juga menyatakan bahwa Danantara memiliki potensi besar untuk mengambil peran lebih signifikan di masa mendatang. Proyek ini mencerminkan semangat sinergi lintas negara dan sektor untuk mendorong Indonesia menjadi pemain utama di industri kendaraan listrik.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












