Hal ini tak lepas dari fakta bahwa pada masa kepemimpinan almarhum, wilayah Malaka masih menjadi bagian dari Kabupaten Belu. Karena itu, duka yang dirasakan bukan hanya milik satu daerah, melainkan menjadi kehilangan bersama yang mengikat dua wilayah dalam satu sejarah.
“Kami datang dengan hati yang penuh duka, tetapi juga penuh hormat. Jasa dan pengabdian beliau tidak hanya untuk Belu, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah Malaka,” ungkap Stefanus Bria Seran dengan penuh penghayatan.
Lebih jauh, SBS menekankan bahwa nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, serta keteladanan yang diwariskan almarhum tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Kunjungan tersebut menjadi simbol kuat persaudaraan dan solidaritas lintas wilayah, sekaligus penegasan bahwa sejarah telah menyatukan Belu dan Malaka dalam ikatan yang tidak lekang oleh waktu.
Di tengah duka yang mendalam, tersirat penghormatan yang tulus bahwa setiap pengabdian akan selalu meninggalkan jejak abadi.
“Kepergian almarhum meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu dalam perjalanan sejarah kedua daerah,” tandasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












