Pertemuan angin tersebut membentuk zona konvergensi yang meningkatkan intensitas hujan di wilayah seperti Jawa Barat dan Jabodetabek.
“Zona pertemuan ini menyebabkan perlambatan dan pembelokan arah angin menuju utara, yang memacu pembentukan awan hujan secara intensif,” kata Dwikorita.
BMKG menambahkan, suhu muka laut yang masih hangat di perairan Indonesia turut memperkuat pembentukan awan-awan hujan. Fenomena ini pertama kali terdeteksi pada 28 Juni, dan peringatan dini telah dikeluarkan sejak awal Juli.
BMKG memastikan bahwa kondisi ini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dan pergerakan hujan diperkirakan akan bergeser ke wilayah Indonesia bagian tengah dalam beberapa hari ke depan.
“Diperkirakan mulai besok hujan akan berkurang. Sekitar 10 Juli akan bergeser ke Kalimantan Timur, Sulawesi, lalu ke Maluku dan Papua,” jelasnya.
BMKG sejak Maret 2024 sudah memperkirakan bahwa awal musim kemarau 2025 akan mengalami keterlambatan di 29 persen Zona Musim (ZOM), terutama di wilayah Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
