Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Yan Klau
Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

“NTT Tak Butuh Lebih Banyak Sekolah, Tapi Sekolah yang Membuat Anak-Anaknya Berpikir dan Mencintai Tanahnya Sendiri”

Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang bergerak maju di bidang pendidikan gedung-gedung sekolah berdiri, koneksi internet meluas, bantuan pemerintah terus mengalir.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Namun di balik kemajuan fisik itu, ada persoalan mendasar: pendidikan belum menyatu dengan kehidupan masyarakatnya sendiri.

Baca Juga :  Polres Malaka Bertindak Profesional, Tidak Ditahannya Ketua DPRD Sesuai KUHAP

Anak-anak di desa mengenal teori pertanian dari buku terbitan Jakarta, tetapi tidak tahu cara membaca tanda musim di ladang keluarganya. Mereka mempelajari ekonomi modern, namun tidak memahami bagaimana pasar lokal berdenyut di desanya sendiri. Inilah jurang besar antara pendidikan dan realitas sosial di NTT jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan membangun lebih banyak sekolah.

Baca Juga :  Hari Pendidikan Nasional di Antara Dialektika dan Etika Rapuh

Ketika Sekolah Menjauh dari Kehidupan

Masalah pendidikan di NTT bukan semata soal kekurangan sarana, tetapi karena pendidikan yang tidak kontekstual. Kurikulum nasional yang seragam dan berorientasi urban membuat pengalaman lokal diabaikan sebagai sumber pengetahuan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM

+ Gabung