Kombinasi kebijakan ini dianggap membuat ruang keuntungan petani makin longgar.
“Dulu harga pupuk hampir menyaingi harga padi. Sekarang pupuk turun, padi naik. Jadi ada sisa hasil untuk petani,” tambahnya.
Menurut Uki, distribusi pupuk bersubsidi kini juga jauh lebih lancar. Stok mudah didapat dan sistem penebusan kian sederhana berkat integrasi data RDKK dan Simluhtan. Petani hanya perlu menunjukkan KTP sesuai data.
“Sekarang tinggal bawa KTP, pupuknya ada. Tidak seperti dulu yang harus menunggu lama,” jelasnya.
Koyum, pemilik kios pupuk Berkah Tani di Jonggol, membenarkan meningkatnya antusiasme petani usai harga pupuk turun. Ia mencatat sekitar 70 persen stok pupuknya sudah terserap, meski masa tanam belum masuk puncak.
“Sebelum harga turun, stok biasanya baru habis sekitar 80 persen menjelang akhir tahun. Sekarang lebih cepat terserap,” katanya.
Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai menguntungkan seluruh rantai usaha pertanian.
“Alhamdulillah Pak Prabowo nurunin harga. Petani senang, pedagang juga ikut senang. Semoga dengan pupuk lebih murah, harga gabah makin bagus dan panen meningkat,” ujar Koyum.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
