Opini  

Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

Reporter : Redaksi Editor: Yan Klau
Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

Anak-anak diajar untuk menjadi pekerja di kota, bukan pembaharu di tanah kelahirannya. Akibatnya, banyak lulusan sekolah justru ingin meninggalkan desanya. Mereka belajar keras bukan untuk membangun tempat mereka lahir, tetapi untuk pergi sejauh mungkin darinya.

Belajar dari Paulo Freire: Pendidikan yang Membebaskan

Filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, pernah memperingatkan bahaya model pendidikan “bank”—di mana guru sekadar menabungkan pengetahuan ke kepala murid tanpa mengajak berpikir kritis. Pendidikan seperti itu, katanya, membuat manusia tunduk, bukan merdeka.

Freire menawarkan konsep conscientização, atau kesadaran kritis: pendidikan yang membuat murid mampu membaca realitas sosialnya dan bertindak untuk mengubahnya.

Bagi NTT, prinsip ini sangat relevan. Sekolah harus membantu anak memahami kemiskinan, kekeringan, dan ketimpangan di sekitarnya—bukan sekadar menghafal rumus tanpa makna.

Phronesis dan Kearifan Lokal

Filsuf Yunani Aristoteles menekankan pentingnya phronesis, kebijaksanaan praktis kemampuan mengambil keputusan etis dalam situasi nyata.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM

+ Gabung

Exit mobile version