Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Yan Klau
Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

Dalam konteks NTT, phronesis berarti kemampuan menanam di lahan kering, menjaga air, memelihara ternak secara berkelanjutan, dan hidup selaras dengan alam. Pendidikan yang berakar pada kebijaksanaan lokal seperti inilah yang akan membangun kemandirian sejati.

Sekolah Sebagai Ruang Hidup, Bukan Ruang Asing

Di banyak tempat, seperti Manggarai Timur, sekolah memiliki lahan kosong yang tak dimanfaatkan. Padahal, jika lahan itu dikelola bersama siswa, bisa menjadi laboratorium hidup: tempat belajar ilmu tanah, ekonomi, dan tanggung jawab sosial sekaligus.

Inilah pendidikan yang mengakar belajar bertani bukan sekadar untuk panen, tetapi untuk berpikir dengan akarnya sendiri.

Inisiatif Lokal yang Menginspirasi

Beberapa komunitas di NTT mulai bergerak ke arah baru. Di Sumba Timur, misalnya, pendidikan alternatif menggabungkan pelajaran sekolah dengan kearifan lokal pengelolaan air dan ternak.

Baca Juga :  Hari Pendidikan Nasional di Antara Dialektika dan Etika Rapuh

Anak-anak belajar meneliti sumber mata air, membuat sumur tradisional, dan menulis kisah leluhur tentang tanah.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM

+ Gabung