Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

Avatar photo
Reporter : Redaksi Editor: Yan Klau
Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

Mereka belajar sains sekaligus spiritualitas ekologi, pendidikan ekologis yang menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam.

Langkah Pembaruan: Dari Kurikulum Hingga Komunitas

Untuk keluar dari jebakan pendidikan yang tidak kontekstual, ada empat langkah penting:

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

1. Kurikulum berbasis wilayah (place-based education).

Pelajaran harus terhubung dengan alam dan sosial budaya setempat. Misalnya, pelajaran IPA di Timor bisa memuat praktik konservasi air dan pertanian lahan kering.

Baca Juga :  Agama Katolik di Tengah Dinamika Dunia Modern

2. Sekolah sebagai pusat riset masyarakat.

Siswa dan mahasiswa meneliti kehidupan sekitar—musim ikan di Lembata, pengelolaan air di Kupang, atau budaya pertanian di Flores.

3. Insentif bagi guru inovatif.

Pemerintah daerah harus memberi ruang bagi guru kreatif yang mengembangkan metode belajar berbasis kearifan lokal.

Baca Juga :  Jalan Rusak Benteng Raja dan Ujian Keseriusan Pemerataan Pembangunan

4. Kolaborasi sekolah dan komunitas adat.

Pengetahuan tradisional tentang musim, tanah, dan ternak harus masuk ke ruang kelas sebagai bahan ajar yang hidup.

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan di NTT tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tetapi melahirkan manusia merdeka, mereka yang sadar akan tanahnya, budayanya, dan masa depannya sendiri.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM

+ Gabung