“Kami menargetkan angka itu [5,2%], tapi risikonya ada karena situasi global. IMF sudah merevisi turun ekonomi dunia. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, juga mengalami penurunan. Indonesia tidak terkecuali,” ujar Sri Mulyani.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan berbagai stimulus ekonomi yang telah diluncurkan. Menurutnya, Indonesia tidak bisa terlalu bergantung pada ekspor, sehingga penguatan konsumsi dan investasi dalam negeri menjadi kunci utama.
“Kami meluncurkan sejumlah stimulus untuk menjaga daya beli dan investasi. Ini sangat penting karena kita tidak bisa terlalu bergantung pada ekspor,” tambahnya.
Salah satu strategi yang dijalankan adalah penguatan jaring pengaman sosial. Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Arief Anshory Yusuf, menegaskan bahwa bantuan sosial (bansos) yang digelontorkan pemerintah sejatinya bukan sekadar pengeluaran, melainkan bentuk investasi jangka panjang.
“Sering orang mengistilahkan bansos itu sebagai biaya. Padahal bansos itu adalah investasi. Investasi supaya kita mendapatkan *future growth* atau bahkan *growth* sekaligus,” kata Arief.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












