Para korban mengantre untuk mendapatkan makanan dan air. Banyak dari mereka tidur di luar ruangan dengan alas seadanya. Gempa susulan terus terjadi, menambah ketakutan di antara warga.
“Hampir seluruh penduduk kota tinggal di jalanan, peron, atau lapangan sepak bola, termasuk saya. Saya tidur di ambang pintu agar bisa lari cepat kalau terjadi gempa lagi,” kata Ko Zeyer.
Gempa ini menambah deretan krisis kemanusiaan di Myanmar. Negara Asia Tenggara itu telah dihantam perang saudara selama empat tahun, dengan hampir 20 juta orang kini memerlukan bantuan kemanusiaan.
Guncangan gempa juga merusak wilayah Mandalay yang berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa, serta ibu kota militer Naypyidaw. Dampaknya terasa hingga ke negara tetangga seperti Thailand dan Tiongkok.
Relawan seperti Kyaw Min berjuang menyelamatkan korban dengan alat seadanya. Mereka menggali puing bangunan dengan tangan kosong.
“Kami menyelamatkan sebanyak mungkin orang dengan peralatan terbatas. Kami menemukan banyak mayat anak-anak, orang tua bahkan ada yang tanpa kepala atau anggota tubuh,” ujarnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












