Dalam konteks NTT, phronesis berarti kemampuan menanam di lahan kering, menjaga air, memelihara ternak secara berkelanjutan, dan hidup selaras dengan alam. Pendidikan yang berakar pada kebijaksanaan lokal seperti inilah yang akan membangun kemandirian sejati.
Sekolah Sebagai Ruang Hidup, Bukan Ruang Asing
Di banyak tempat, seperti Manggarai Timur, sekolah memiliki lahan kosong yang tak dimanfaatkan. Padahal, jika lahan itu dikelola bersama siswa, bisa menjadi laboratorium hidup: tempat belajar ilmu tanah, ekonomi, dan tanggung jawab sosial sekaligus.
Inilah pendidikan yang mengakar belajar bertani bukan sekadar untuk panen, tetapi untuk berpikir dengan akarnya sendiri.
Inisiatif Lokal yang Menginspirasi
Beberapa komunitas di NTT mulai bergerak ke arah baru. Di Sumba Timur, misalnya, pendidikan alternatif menggabungkan pelajaran sekolah dengan kearifan lokal pengelolaan air dan ternak.
Anak-anak belajar meneliti sumber mata air, membuat sumur tradisional, dan menulis kisah leluhur tentang tanah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TimorMedia.COM
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
